Jor yang melihat hasil pertempuran mendekati Revan, tubuhnya yang besar mengguncang tanah. "Apa kau mau kita terjebak di sini seperti tikus? Serang saja mereka! Bakar desa itu kalau perlu!"

Revan mendesah berat, tapi tatapannya tetap dingin. "Tidak ada jalan lain. Mereka membuat jembatan untuk mengarahkan kita, tapi rawa ini terlalu dangkal untuk jadi penghalang. Kita seberangi rawa, buat barisan perlindungan."

Ia menoleh ke pasukannya, suaranya lantang dan penuh otoritas. "Kalian semua, bagi jadi dua baris! Barisan pertama maju dengan perisai, lindungi barisan belakang! Jangan berhenti sampai kita sampai ke pagar mereka!"

Para prajurit, meskipun terlihat ragu-ragu, mulai membentuk formasi seperti yang diperintahkan. Sebagian besar membawa perisai kayu yang besar, melindungi mereka dari kemungkinan serangan panah lagi.

"Majuuu!" Revan mengangkat tangannya, memberi aba-aba.

Pasukan Monrest mulai bergerak, mengarungi rawa yang berlumpur dengan langkah berat. Mereka melindungi diri dengan perisai, sementara barisan belakang bersiap meluncurkan serangan balasan jika diperlukan. Monster-monster besar bergerak lambat di belakang mereka, menggeram rendah, air liur hijau menetes dari taring mereka yang tajam.

Di seberang rawa, Lynx mengamati dengan hati-hati dari balik semak-semak. Leena, Maret, dan beberapa pemanah lainnya berjongkok di sekelilingnya. "Mereka belajar dari serangan pertama," gumam Lynx.

"Mereka lebih pintar dari yang kukira," jawab Leena, matanya tidak lepas dari barisan musuh yang mendekat. "Apa kita menyerang lagi sekarang?"

"Belum." Lynx menggeleng. "Mereka tidak tahu jebakan yang kita pasang di rawa ini. Tunggu mereka masuk lebih dalam."

Di rawa, para prajurit Monrest melanjutkan langkah mereka dengan hati-hati. Lumpur mencengkeram kaki mereka, memperlambat pergerakan. Namun, ketika mereka mulai mencapai pertengahan rawa, bunyi gemerisik dan dentuman keras tiba-tiba terdengar. Beberapa batang kayu besar yang disamarkan di bawah air terangkat dengan cepat, didorong oleh mekanisme jebakan sederhana. Kayu-kayu itu dilengkapi dengan duri tajam yang menusuk tubuh mereka yang tidak sempat menghindar.

"JEBAKAN!" seorang prajurit berteriak, tapi terlambat. Beberapa dari mereka terjepit atau tertusuk, tubuh mereka terhempas kembali ke lumpur. Racun yang melapisi duri-duri itu bekerja cepat, membuat para korban langsung kejang-kejang sebelum akhirnya mati.

"Terus maju! Jangan berhenti!" Revan berteriak dari belakang, tetapi kekacauan sudah terjadi. Formasi mereka pecah saat beberapa prajurit mencoba menghindari jebakan, hanya untuk terjerumus ke dalam lubang yang ditutupi ranting dan dedaunan. Kayu runcing yang dipasang di dasar lubang menembus tubuh mereka dengan brutal.

Beberapa berhasil mencapai sisi rawa, tapi pagar runcing dari kayu menunggu mereka. Para prajurit yang mencoba menerobos segera menjerit kesakitan ketika mereka tertusuk kayu-kayu itu, racun di ujungnya langsung menyerang sistem tubuh mereka.

Di belakang, Nesa menatap kekacauan itu dengan rahang terkatup. "Mereka terlalu banyak memasang jebakan. Ini mustahil diterobos!"

"Revan, kita harus mundur lagi!" Jor berseru, wajahnya mulai menunjukkan tanda-tanda keraguan.

Revan mengepalkan tinjunya, matanya berkilat penuh amarah. "TIDAK! Mereka hanya beberapa orang. Kita tidak akan kalah dari mereka!" Ia menggertakkan giginya, tetapi saat ia melihat para prajuritnya yang tersisa mulai kehilangan keberanian, ia tahu bahwa ia tidak punya pilihan.

"MUNDUR!" Revan akhirnya berteriak dengan penuh kemarahan. "SEMUA MUNDUR!"

Sisa pasukan Monrest segera menarik diri ke arah mereka datang, meninggalkan mayat rekan-rekan mereka yang tergeletak di rawa atau tergantung di pagar kayu. Monster-monster besar juga dipaksa mundur, meskipun mereka menggeram tidak senang, air liur mereka menetes di atas lumpur yang berlumuran darah.

Di sisi Sinto, Lynx tetap berjongkok, mengamati musuh yang mundur. Ia menarik napas dalam, lalu berbalik pada Maret. "Mereka akan kembali. Dan ketika mereka melakukannya, mereka akan membawa strategi baru."

Maret mengangguk, wajahnya tegang. "Apa kita bisa bertahan jika mereka datang lagi?"

"Kita harus," jawab Lynx, suaranya tegas. "Ini baru permulaan."

Di sisi rawa yang berlumuran darah, Revan menatap pasukannya yang terseok-seok mundur dengan wajah penuh amarah. Ia menggeram rendah, lalu melirik ke arah tiga monster besar yang menggeram di belakangnya. Taring mereka berkilat basah, tubuh bersisik mereka bergerak gelisah seperti sedang menunggu aba-aba.

"Biarkan makhluk-makhluk ini yang membereskan," perintah Revan dingin, tatapannya menusuk.

Nesa menoleh dengan senyum tipis. "Akhirnya kau memutuskan untuk berhenti main-main. Lihat saja, mereka akan menghancurkan segalanya."

"Cepat atau lambat, si pembunuh Kargo itu juga akan ditemukan," gumam Jor sambil melipat tangan. Ia tertawa kecil. "Kalau dia cukup bodoh untuk menunjukkan diri."

Revan mengangkat tangannya, dan dengan satu peluit tajam, monster-monster itu melangkah maju. Rawa bergetar di bawah berat tubuh mereka, dan suara geraman mereka menggema, membuat para prajurit Sinto yang bersembunyi di balik pagar runcing mulai ketakutan.

"Panah!" teriak Maret dari balik semak.

Puluhan anak panah melesat, tapi ketika mengenai tubuh makhluk-makhluk itu, hanya terdengar suara logam yang beradu. Sisik-sisik mereka terlalu keras untuk ditembus. Monster itu terus maju, matanya merah menyala, mengincar setiap gerakan di perkemahan Sinto.

"Tidak mempan!" seorang pemanah Sinto berteriak, suaranya putus asa.

Lynx, yang berdiri di tengah barisan, segera mengangkat tangannya. "Fokus pada pasukan mereka!" perintahnya tegas. "Jangan buang panah untuk makhluk itu. Tahan mereka di pagar. Aku akan mengurus ini."

"Lynx, jangan!" Leena memegang lengannya. "Mereka terlalu kuat—"

"Aku harus," potong Lynx dengan suara rendah. Ia menarik napas panjang, lalu berlari ke arah jembatan dengan parang di tangannya. Tubuhnya melesat seperti kilat, meninggalkan barisan pertahanan di belakang.

Di sisi lain rawa, Revan, Nesa, dan Jor melihat aksi Lynx dengan ekspresi campuran antara heran dan hiburan.

"Dia muncul," ujar Nesa sambil menyilangkan tangan. "Keberanian atau kebodohan?"

Jor terkekeh. "Itu bukan keberanian. Itu kesalahan. Dia pasti orang yang membunuh Kargo. Lihat saja caranya berlari, penuh percaya diri."

Revan menyipitkan matanya, senyumnya dingin. "Kalau begitu, biarkan dia belajar perbedaan antara membunuh Kargo dan melawan kami."

Lynx melompat ke sisi seberang jembatan, langsung berhadapan dengan salah satu monster. Makhluk itu menggeram keras, mengangkat cakar besar yang penuh duri, lalu menebas ke arahnya dengan kecepatan mengejutkan. Lynx menghindar dengan lompatan ke samping, tapi angin dari serangan itu cukup untuk membuat tanah di bawahnya bergetar.

"Aku tidak bisa melawan mereka langsung," gumamnya, matanya tajam mencari kelemahan.

Monster itu menyerang lagi, mulutnya yang penuh taring terbuka lebar. Lynx berlari melingkar, menggunakan kecepatannya untuk menghindar. Parangnya bergerak cepat, menebas bagian leher dan kaki makhluk itu, tapi sisik kerasnya membuat setiap serangan hanya meninggalkan goresan kecil.

Makhluk kedua bergabung, menyerangnya dari belakang. Lynx melompat ke udara, menghindari serangan ganda, tapi ia tidak cukup cepat untuk menghindar sepenuhnya. Cakar makhluk itu mengenai lengannya, meninggalkan luka dalam yang berdarah.

"Argh!" Lynx meringis, tapi tetap berdiri, menggenggam parangnya lebih erat.

Di dekat perkemahan, Leena dan Karim dengan gesit memanah para prajurit Monrest yang mencoba mendekati pagar. Leena, yang biasanya ragu, kini tampak lebih berani. Setiap panahnya mengenai sasaran, tanpa ragu menembus dada dan kepala musuh.

"Kau semakin baik," kata Karim sambil melepas panah lain yang langsung menumbangkan seorang prajurit.

Leena tidak menjawab, fokusnya sepenuhnya pada medan perang. Matanya menyipit, penuh tekad. Ia menembak lagi, menjatuhkan seorang prajurit yang mencoba memanjat pagar.

Di sisi lain, Sherly membantu dengan melempar tombak dan mengarahkan para pemanah. Tapi di tengah kekacauan, ia terus mencari kesempatan untuk mencelakakan Leena. Ia menyenggol bahu Leena dengan sengaja, mencoba membuatnya kehilangan keseimbangan, tapi Leena tetap berdiri kokoh.

"Sherly, fokus pada musuh!" Karim berseru, menatapnya dengan tajam.

Sherly mendengus, lalu berpura-pura melanjutkan perannya, tapi matanya tetap mencari celah untuk menyerang Leena.

Di seberang jembatan, Lynx mulai kelelahan. Serangan-serangan monster itu terus mendesaknya, dan kekuatannya semakin menurun. Tapi ia tetap berdiri, darah mengalir dari beberapa luka di tubuhnya.

"Aku harus menjatuhkan mereka satu per satu," pikir Lynx. Ketika salah satu monster menyerang dengan cakarnya, Lynx melompat ke punggungnya, menusukkan parangnya di celah antara sisik-sisik lehernya. Monster itu menggeram keras, menggeliat liar, tapi Lynx menggenggam erat, mendorong parangnya lebih dalam. Dengan teriakan keras, monster itu akhirnya tumbang, tubuhnya terhempas ke tanah.

Dua monster lainnya melihat rekannya jatuh dan mengamuk. Lynx terpaksa menghindar lagi, tubuhnya bergerak cepat meskipun terasa berat.

Monster kedua menyerang dengan rahangnya yang besar, mencoba menggigit Lynx. Ia melompat ke samping, lalu menusukkan parangnya ke mata makhluk itu. Dengan jeritan keras, monster itu terjatuh, darah mengalir deras dari lukanya.

Kini tinggal satu. Lynx berdiri dengan napas tersengal, tubuhnya gemetar karena kelelahan. Monster terakhir menyerang dengan penuh amarah, cakarnya menyapu udara dengan kekuatan besar. Lynx berguling di tanah, menghindar dengan susah payah, lalu melompat ke atas, menebas leher makhluk itu dengan seluruh kekuatannya yang tersisa. Parangnya menembus celah di sisik, dan monster itu runtuh ke tanah dengan suara gemuruh.

Di kejauhan, Revan menatap dengan wajah gelap, matanya penuh kemarahan.

"Dia membunuh mereka semua," gumam Nesa, ekspresinya berubah tegang. "Makhluk-makhluk itu tidak pernah kalah sebelumnya."

Jor mengepalkan tinjunya. "Ini tidak mungkin. Dia hanya satu orang!"

Revan menarik napas panjang, mencoba menenangkan amarahnya. "Lynx... begitu namamu, ya?" gumamnya pelan. "Kita akan lihat seberapa lama kau bisa bertahan."

Lynx berdiri terengah-engah di tengah rawa, tubuhnya penuh luka dan darah segar yang mengalir dari beberapa goresan. Parangnya basah oleh darah monster yang baru saja ia kalahkan, dan napasnya tersengal. Namun, matanya tetap fokus ke arah pasukan Monrest di kejauhan. Di sana, Nesa melangkah maju dengan langkah ringan, senyum mengejek terukir di wajahnya.

"Hebat sekali, kau berhasil mengalahkan mereka," kata Nesa dengan nada sinis. "Aku harus mengaku, itu menghibur. Tapi jangan terlalu bangga. Itu hanya binatang. Sekarang kau harus menghadapi seseorang yang tahu bagaimana bertarung."

Lynx menggenggam parangnya lebih erat, menatap Nesa yang mendekat. "Aku tidak peduli siapa kau. Jika kau ingin bertarung, aku siap."


